Berdasarkan wawancara Konde.co
65 & 71 tahun
Pasangan tua asal Tambun, Bekasi yang telah menjadi pemulung sejak tahun 2007. Mereka bekerja pada bos pemulung dan tinggal di gubuk milik bos.
Menghidupi diri sendiri dan dua cucu yatim piatu yang menjadi tanggungan mereka.
Adaptasi paksa terhadap bau busuk, makan makanan "layak buang" dari tumpukan sampah, hidup sangat hemat untuk mengirim separuh lebih upah kepada dua cucu (satu penganggur, satu sekolah).
48 tahun
Mantan buruh tani dari Karawang yang menjadi migran ekonomi akibat gagal panen. Telah menjadi pemulung selama 2 tahun, bekerja pada bos pemulung dan tinggal di gubuk bos bersama anak yang masih sekolah.
Membiayai kehidupan sehari-hari dan pendidikan anak yang tinggal bersamanya.
Beradaptasi dengan bau sampah dan kondisi kerja keras. Ketika uang tidak cukup, meminjam kepada anak pertama.
Satu anak yang tinggal bersama (siswa SMK).
Pemulung Senior sejak 2000
Pemulung senior sejak tahun 2000, asal Cilegon. Membawa serta anak-anak mereka ke dunia pemulung. Kini sudah mengurus KTP Bekasi sehingga anak-anak bisa sekolah. Wandi pernah bekerja sebagai sopir truk sampah.
Mencukupi kebutuhan keluarga besar dan menyekolahkan keempat anak mereka.
Era Awal:
Kondisi Sekarang:
Memanfaatkan makanan dari sampah, mengumpulkan "barang tabungan", mengakses layanan administrasi (KTP, sekolah). Empat anak (3 lulus SD, 1 SMK) dan cucu yang dirawat.
25 tahun
Buruh lapak selama 3 tahun, mantan buruh pabrik, lulusan SMP dari Karawang. Bekerja pada bos pelapak dan tinggal di gubuk bos bersama istri dan anak yang masih TK.
Minimnya pilihan pekerjaan di kampung halaman memaksa ia menjadi buruh lapak untuk menghidupi keluarga muda.
Tinggal bersama istri dan satu anak usia TK. Kehidupan keluarga muda yang sangat pas-pasan dengan ancaman kesehatan yang terus menghantui.